Tuesday, 7 June 2011

Resensi Buku : The Real You is The Real Success


Buku                           : The Real You Is The Real Success
Penulis buku               : Semuel S. Lusi
Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman         : 282 halaman

KESEMPURNAAN DALAM DIRI YANG SEJATI
  
            Buku yang sangat memotivasi dan penuh inspirasi bagi setiap orang yang membacanya. Dengan menggunakan berbagai latar belakang ilustrasi, pengalaman nyata, hipotesis dan kajian ilmiah, penulis mampu untuk meramunya menjadi sebua buku yang padat dan kaya untuk diselami dan dilakukan oleh setiap pribadi yang ingin benar-benar mengenal dirinya, dan menjadi pondasi dalam pengembangan diri.
            Dari cover depan buku tampak bahwa yang ditawarkan dalam buku ini adalah pengembangkan diri seorang manusia bukan untuk menjadi pemain catur dalam kehidupan nyata (yang selalu berhadapan dengan persoalan dan strategi menaklukan musuh). Namun buku ini menjadikan seseorang sadar akan potensi dalam dirinya yang luar biasa, dan mampu untuk berdiri sendiri dengan kekuatan potensi tersebut, tanpa harus terjebak dalam strategi untuk saling menaklukan. Secara tegas buku ini ingin menyatakan bahwa untuk sukses dalam hidup tidaklah harus disertai dengan dasar saling berkompetisi, namun dengan menjadi diri sendiri dan memahami keunikan masing-masing untuk saling berkontribusi.
            Dalam buku ini, penulis membagi 4 (empat) bagian dalam menjadi “diri yang sebenarnya”. Pada bagian pertama, penulis memberikan panduan untuk setiap manusia untuk menemukan diri sejati (discovering the real you). Proses pencaharian diri merupakan proses yang dijalani oleh setiap manusia dalam kehidupan. Dengan menggunakan banyak pendekatan (teologi, filsafat, psikologi, dan lainnya), setiap orang berusaha untuk mencari tahu makna dari “menjadi manusia sejati”. Dalam buku ini penulis memaknai diri sejati adalah identitas hakiki manusia yang merupakan manusia sejati. Namun dalam menjalani kehidupan mengalami pembiasan, karena berbagai factor yang mengkristal menjadi citra diri (seperti perasaan ketidakmampuan, minder dan lainnya). Menurut penulis “The Real You” adalah kesatuan dari empat unsur hakiki manusia, yang juga mewakili elemen-elemen semesta. Keempat aspek hakiki manusia merupakan gambaran dari empat kecerdasan dasar manusia. Elemen udara diwakili kecerdasan spiritual, elemen api diwakili kecerdasan intelektual, elemen air terwakili dalam kecerdasan emosional, dan elemen tanah mewakili kecerdasan fisik.
            Spiritual manusia berkaitan dengan hal-hal seperti visi, visualisasi, imajinasi, daya khayal, impian, harapan dan pengenalan akan unsure transenden. Menurut pandangan beberapa agama, “manusia adalah makluk spiritual yang mengenakan pakaian jasmani”. Selain kaum beragama, kaum ateis seperti Andre Comte-Sponville mengakuia, bahwa “manusia adalah binatang spiritual. Selain itu penulis juga melampirkan beberapa  fakta ilmiah, yang membuktikan manusia mampu melakukan perjalanan spiritual lewat mata pikiran (seperti karya Michael Newton tentang Journey of  Souls dan karya Mario Beauregard dan Densye O’leary yang berjudul The Spiritual Brain). Menurut penulis wujud spiritual dalam diri manusia, adalah kenyataan bahwa setiap manusia memiliki sifat baik, sisi terang, sisi bijak, merindukan kedamaian, cinta kasih, dan hal positif lainnya yang menggambarkan adanya jejak keilahian. Mimpi-mimpi besar adalah juga merupakan wujud lain dari dorongan spiritual, seperti mimpi Marthen Luther King tentang kesataraan, John F. Kenedy tentang pendaratan manusia di bulan, mimpi Yesus Kristus tentang kedamaian dan sejahtera, mimpi Nabi Muhammad  tentang Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta, mimpi Karl Marx tentang manusia tanpa kelas dan banyak mimpi besar lainnya. Menurut penulis yang perlu dilakukan manusia ketika menyadari nilai-nilai spiritualitas dalam dirinya, adalah lakukanlah dengan segenap potensi total yang dimilikinya.                      
            Aspek emosional adalah emosi, rasa empati, simpati, perhatian, intensitas, kepedulian dan sejenisnya. Secara antomi posisi “emosi” terletak di otak bagian amigdala di sisi limpbik dekat pangkal atau batang otak. Menurut para ahli dalam evolusi berpikir kemampuan emosi manusia hadir lebih dahulu dalam batang otak manusia primitive sebelum bagian berpikir otak. Itulah sebabnya, emosi sesungguhnya menjalankan fungsi naluriah “primitive” manusia. Kecerdasan emosional berkaitan dengan kemmapuan mengendalikan emosi kita sehingga dapat memberikan respon terhadap berbagai stimulus secara bermanfaat. EQ merupakan “sistem kendali internal” memungkinkan manusia untuk menjaga keseimbangan dalam berelasi dengan lingkungan social atau lingkungan alam dan sebagainya.
            Aspek intelektual, yakni manusia merupakan makluk yang memiliki kekayaan dan keajaiban dalam pikiran. Penulis mencatumkan beberapa fakta ilmiah tentang kekuatan intelektual manusia, seperti seperti kecepatan koneksi tita miliar per detik otak bayi manusia, oatka manusia memiliki 200 miliar sel saraf yang salin berhubungan, manusia memiliki computer supercanggih dengan kapasitas 100.000 TB, serta beberapa komentar para ahli tentang otak manusia yang sangat luar biasa.          Dan yang terakhri adalah aspek fisik, yang berkaitan dengan kemampuan dan potensi untuk memanfaatkan semua organ fisik. Menurut penulis manusia merupakan makluk yang unik, karena terbentuk dengan proses seleksi yang begitu teliti, lewat proses pembuahan.           
            Setelah menjelaskan ke-4 aspek hakiki manusia, penulis menggambarkan bahwa setiap manusia memiliki citra diri dan terus mengalami proses pertumbuhan. Citra diri manusia ada yang negative dan positif. Citra diri negative adalah gambaran salah mengenal dan mendefenisikan diri, yang berujung pada salah memperlakukan diri dan menjalaninya. Sedangkan citra diri positif adalah dibangun atas dasar kesadaran penuh tentang diri sejati dengan segala totalitas potensinya. Pada akhir bagian ini, penulis mengajak setiap manusia untuk menjadi 100% “KAMU”, sebagai bagian dari pengenalan diri.
            Setelah mengenal diri, selanjutnya penulis mengajak masuk ke bagian kedua, yakni bagaimana menjadi diri yang sejati. Dalam bagian ini penulis mengusulkan untuk membangun citra diri positif, dengan membenahi sistem belief manusia. Penulis mengingatkan kembali sebuah ungkapan inspirasional “Apapun Yang Anda Percayai, Hal Buruk maupun Baik, Anda Sepenuhnya Benar”. Dengan demikian menurut penulis, belief –lah yang menciptakan kebenaran. Dan seharusnya sistem belief dibentuk oleh “pengetahuan tentang diri sejati”.
            Menurut penulis sistem belief sudah mulai ditanamkan sejak seorang manusia dilahirkan. Sistem belief diperkaya dan diperkuat oleh lingkungan bergaul dan kemudia oleh nilai-nilai atau aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat. Dan jika sampai belief memberikan dampak yang negative kepada manusia, maka yang perlu dilakukan adalah memperbaharui sistem belief tersebut. Penulis menekankah bahwa sistem belief manusia mampu menopang manusia untuk bertumbuh tanpa batas menuju optimalisasi diri sejati.
            Setelah sistem belief, hal lainnya adalah “peta internal”. Peta internal dibentuk oleh setiap informasi yang manusia dapatkan lewat panca indera. Peta internal dibentuk juga oleh sistem belief dan kemudian memberikan sumbangan pada kinerja manusia. Peta internal memiliki sebutan lain,yaitu paradigma, peta mental manusia, mata pikiran atau posisi pandangan manusia.
            Hal lain dalam membangun diri adalah selalu bergaul dengan orang-orang yang bersikap positif; pusatkan diri pada apa yang dimiliki dan bukan apa yang orang miliki; selalu untuk menyayangi diri sebagai bagian dari focus untuk membangun citra diri; mengambil kendali atas diri, dan tidak disetir oleh lingkungan atau hal lainnya; dan yang terakhir adalaha memiliki prinsip untuk mengikuti bintang timur (yakni prinsip yang mengompasi hidup untuk kembali pada menjadi diri yang sejati). Setelah proses membangun citra diri dilakukan, maka arahan penulis adalah mulailah menyalakah gen diri sejati. Gen ini dinyalahkan dengan membangun kesadaran diri, membangun mental positif, dan mulailah berperilaku sebagai diri yang sejati.
            Selain Meyalakan Gen diri sejati, manusia juga harus mampu mengenali jebakan diri bayangan. Jebakan diri bayangan yang diungkapkan oleh penulis, yakni : mentalitas budak (ingin menjadi pekerja dari pada pemimpin); mentalitas cepat saji (mau cepat menjadi kaya& sukses); EGO manusia merupakan topeng yang menyembunyikan diri sejati manusia; selalu mencari kambing hitam. Untuk menghindarkan diri dari jebakan diri bayangan, maka penulis mengusulkan untuk memunculkan karakter sejati dan bukan kepribadian tertentu, serta berusahalah untuk menon-aktifkan mesin penjawab otomatis. Yang penulis maksudkan dengan mesin penjawab otomatis adalah jawaba-jawaban yang telah disediakan untuk menjadi alasan dalam kondisi tertentu.
            Pada bagian ini, penulis juga memberikan beberapa trik menemukan cara unik, untuk menjadi diri yang sejati sebagai manusia. cara-cara tersebut adalah ciptakan label anda sendiri (sebelum orang lain melabelkannya), serta “anda” adalah kata-kata yang anda gunakan (karena kata-kata memiliki kekuatan positif untuk membantu membentuk diri anda). Selain itu afirmasilah diri anda terus menerus untuk menjadi manusia yang sejati.
            Pada bagian ketiga, penulis memaparkan bagaimana mengoperasikan diri sejati. Bagian ini diawali dengan suatu kalimat yang tegas “Tuhan yang merencanakan the real you, Anda yang menentukan the real success”. Kalimat tersebut membawa pembaca setelah menyadari potensi luar biasa dalam dirinya, untuk memberdayakannya menjadi kesuksesan yang sejati. Dalam bagian ini menggambarkan sebuah skema peran dan kompetensi The Real You. Pada skema tersebut penulis membagi dua zona (zona leadership dan zona manajerial). Penulis menggambarkan bahwa struktur peran pada zona leadership meliputi unsure spiritualitas dan emosional. Sedangkan pada zona manajerial terdapat unsure intelektualitas dan fisik. Dari skema ini tampak bahwa menurut penulis yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin adalah kemampuan spiritualitas dan emosional, dan bukan kemampuan intelektual (berbanding terbalik dengan skema kepemimpinan konvensional yang selalu mengandalkan intelektualitas). Hal ini disbabkan, menurut penulis fungsi leadership adalah meletakan visi dan rambu-rambu atau tujuan tertinggi, sedangkan manajeriam merupakan “strategi lapangan” untuk mengelolah sumber-sumber daya bai pewujudan visi.
            Selanjutnya penulis menjelaskan bahwa peran spiritual dalam leadership adalah merupakan pengarah atau pemandu bagi ketiga unsure lainnya (emosional, intelektualitas & fisik). Sedangkan peran emosional adalah menajdi pengatur, yang menyediakan prinsip-prinsip dasar, nilai acuan, kode etik juga antuisme sebagai pemacu semangat. Sedangkan pasa zona manajerial, peran dari intelektualitas adalah mengorganisasi berbagai sumber daya untuk dikelolah agar mencapai tujuan. Dan disini peran fisik adalah pelayan dari pikiran yang anda miliki. Dalam buku ini penulis memberikan gambaran secara lebih detail dengan menggunakan rumus-rumus jika keempat kunci kesuksesan tersebut tidak dimaksimalkan atau dimaksimalkan oleh seorang manusia.
            Setelah mengetahui bagaimana mengoperasikan the real you, dengan menggambarkan potensi kekuatan dari skema peran dan kompetensi the rela you, manusia sudah dapat menapaki jalan the real success. Proses menapaki sukses yang sebenarnya, dilalui dengan beberapa cara : mulailah dari apa yang ada padamu; kenali nilai-nilai anda; temukan patron yang anda inginkan dan tirulah; berlakukan “aturan-aturan saya” secara efektif; yang terpenting adalah “aturan-aturan saya”, harus menunjang anda untuk sukses; dan ciptakan lah ralitasmu, karena realitas adalah hasil pikiran manusia sendiri dalam memahami dunia; mulailah berlari dengan arah serta dengan pemahaman diri sejati sebagai bagian dari penambah kecepatan menuju tujuan kesuksesan.
            Pada bagian akhir, bagian keempat. Untuk membangun kesuksesan sejati dengan tidak meninggalkan diri yang sejati, maka mulailah membanun habitat sukses anda. Menurut penulis alam semesta diciptakan saling bergantung, untuk itu kesuksesan keseluruan (habitat) menentukan juga kesuksesan setiap individu. Penulis mengusulkan sebuah konsep tentang tempat dimana makluk hidup daling berinteraksi secara harmonis untuk capaian optimal kehidupan. Konsep tersebut dinamakan biosotop, konsep dimana subyek yang salin berinteraksi, yang mengamati dirinya dan merawatnya melalui kesadaran kemenyatuan total. Dalam biosotop ada kesadaran, kepekaan dan empatiyang saling berinteraksi dan berelasi (setiap komponen saling membagi energy dan saling merawat, menumbuhkan dan saling menghidupkan). Menurut penulis strategi membangun habitat makluk sukses, yakni : setiap unsure dalam habitat terkoneksi dengan jejaring potensial; habitat yang berkaitan dengan peran-peran kehidupan; habitat yang berhubungan dengan pengembangan gagasan untuk pertumbuhan. Penulis menekankan bahwa jika setiap manusia mampu membangun habitatnya secara jelas, maka segala unsure dapat saling berkontribusi untuk saling mendukung dan menghidupkan.
            pada akhir dari buku ini, penulis menambahkan tanggung jawab makluk sukses. Tanggung jawab untuk bukan hanya menuntut hak untuk sukses, namun untuk juga menjalankan kewajiban sebagai makluk sukses. Menurut penulis tidak ada kesuksesan yang ada secara mandiri, tanpa kontribusi unsure lainnya. Untuk itu sebagai makluk sukses, manusia harus memberikan dan saling berkontribusi, siap untuk menjadi tanaman pioneer dan tidak lupa untuk selalu bersyukur.             

Kompleksitas Dan Pluralitas Penghargaan Dalam Diri Sejati
            Dalam buku ini, penulis berhasil untuk menunjukan contoh-contoh dan ilustrasi dengan menggunakan berbagai kekayaan budaya, keberagaman latar belakang cerita dan juga berhasil melengkapi antara pengembangan diri dengan bukti ilmiah tentang manusia. Penulis berhasil menunjukan fakta-fakta yang membuat setiap orang merasakan dirinya sangat luar biasa. pembuktian akan banyaknya jumlah saraf dalam otak, dengan berbaai fungsi kerja, namun saling tetap berhubungan; kerja sel dalam tubuh yang dengan berbagai fungsi kerja, namun saling tercipta koneksi; lalu saling adanya kontribusi menguntungkan dalam sebuah habitat. Hal-hal tersebut menunjukan bahwa manusia memiliki tingkat kompleksitas dan keberagaman dalam dirinya, namun kesemuanya itu memiliki fungsi hanya untuk menjadi diri sejati, diri yang paling hakiki. selain dri pembuktian ilmiah, penulis yang berlatar belakang pendidikan sosiologi & politik, juga menunjukan kekhasan dan kepelbagaian budaya Indonesia lewat cerita pengalaman  dan berbagai karakter yang mampu memberikan pembelajaran bagi setiap pembaca buku ini. Beberapa joke ringan tentang manusia dengan teknologi, dalam cerita Pak Burhan dan HP canggihnya pun mampu memberikan pandangan tentang manusia Indonesia dalam menerima teknologi (yang kadangkala hanya sebagai gaya hidup, tapi tidak tahu manfaatnya). penulis mampu menunjukan bahwa seluruh unsure dalam kehidupan, baik dalam diri manusia maupun unsure disekitar manusia, ataupun pengalaman orang lain merupakan peran penting dalam pertumbuhan diri sejati. Untuk itu kesadaran diri dan kemampuan untuk menjadi diri sejati merupakan salah satu cara untuk menjadi sukses sebagai manusia yang sejati.
            Dari buku ini juga tampak bahwa sang penulis sangat menghargai keberagaman dan mencintai kompleksitas. Hal ini tampak dalam gaya penulisan dan pembahasan tiap-tiap bagian dari buku ini, dengan tidak hanya menonjolkan salah satu nilai dari budaya, agama, atau kelompok tertentu, namun mengambilk seluruh nilai dalam setiap perjumpaan pengalaman, pemahaman dan hasil berpikir penulis tentang manusia. Penulis mampu menciptakan sebuah buku yang penuh inspirasi, dengan contoh nilai pembelajaran yang padat.
            Memang jika dibaca hingga akhir, buku ini seperti mengawinkan berbagai karya pemikiran motivasi dari “barat”(seperti karya Stephen Covey, Tony Buzan dan lainnya) dengan menggunakan pendekatan cerita, ilustrasi dan nilai ketimuran. Penulis berupaya untuk menulis secara bebas dan menawarkan beberapa konsep baru tentang menjadi diri sejati. Selain itu penulis juga berhasil mengatur secara sistimatis untuk menjawab, bagaimana menjadi seorang manusia sejati yang mencapai sukses sejati. Buku yang ringan dibaca dan setiap pembaca akan dibawa kedalam arus tenang untuk menjadi manusia sejati. Dan kembali seperti diawal, bahwa buku ini tergambarkan secara utuh dengan cover buku depan, bahwa menjadi manusia sejati tidak perlu terjebak dalam pertarungan dan pertempuran, akan tetapi menjadi manusia sejati adalah kembali kepada unsure dari hakikat kemanusiaan, dan setiap manusia memiliki unsure-unsur tersebut.